Puisi

Ketika senja pergi dari halaman ini

Doa-doa yang ku kirim dengan air mata ke alamatmu itu, adakah sampai di pintumu? Ujung-ujung kemaraumu yang runcing itu telah menghujam retak halamanku. Apa lagi yang dapat ku kirim padamu selain keluh kesah?

Dari satu musim ke musim yang lain sebenarnya selalu kau tinggalkan jejak untuk aku pedomani. Seperti gema tawamu yang tertinggal diberanda ini: ku dengar seperti derai gerimis. Tapi dengan janji yang tak pernah aku tepati dapatkah aku jadi fasikmu?

Senja berkemas di halaman ini dan fajar esok aku tunggu di halaman ini. Aku selalu lupa bahwa seberang sana – ketika senja pergi dari halaman ini-orang lain telah menikmati fajar. Selalu saja ada yang aku lupa dari kegaibanmu. Seperti ketika aku bermimpi kau kirimi jubah berwarna putih untuk ku kenakan resepsi pesta besarmu

Tentang kembang

Bergerak dan berbisiklah kembang-kembang yang mekar pada benih embun. Pada ranting-ranting Yang menampung kicau burung

Kehenigan pagi hari semakin sempurna kitika kembang menembur harum.

Tidak ! kau janga memaksa memetiknya, walau sekuntum apalagi sekedar ingin mencium

Tangan ku gemetar, tak sanggup melewati duri melewati hati ku yang terlanjur meyakini. Kembang akan semakin indah bila gugur sendiri

Tanah air

Pada batasan, bukit barisan

Memandang aku, kebawah memandang tampaklah hutan,rimba dan ngarai lagi pula sawa, sungai yang permai, serta gerangan, lihatlah pula langit yang hijau, bertukar pucuk, daun kelapa itulah

tanah air, tanah airku, tumpah darahku

sesayup mata, hutan semata bergunung bukit, lemah sedikit jauh disana, disebelah situ, di pagari gunung satu persatu adalah gerangan sebuah surga bukannya jahat bumi kedua firdaus melayu di atas dunia!

Pada batasan, bukit barisan, memandang kepantai, teluk permai, tampaklah air, air segala, itulah laut, samudra hindia, tampaklah ombak, gelombang pelbagai memecah ke pasir lalu berderai ia memekik, beandai-andai

Kita adalah pemilik sah republik ini

Tidak ada lagi pilihan lain, kita harus jalan terus

karena berhenti atau mundur berarti hancur

apakah akan kita jual keyakinan kita dalam pengabdian tanpa harga

akan maukah kita duduk satu meja dengan para pembunuh tahun yang lalu dalam setiap kalimat yang berakhiran: “duli tuhanku?”

tak adalagi pilihan lain, kita harus berjalan terus

kita adalah manusia bermata kuyu, yang di tepi jalan mengacungkan tangan untuk oplet atau bus yang penuh kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

di pukul banjir, gunung api, kutuk, dan hama dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya nerdeka kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan dan seribu pengeras suara yang hampa suara

tidak ada pilihan lain kita harus berjalan terus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s