hutn Kipas penggerak perahu Raimon Laing akhirnya patah juga setelah beberapa kali membentur dasar sungai yang dangkal. Dari Desa Setulang, Malinau Selatan, Malinau, Kalimantan Timur, perahu Raimon menghulu menyusuri Sungai Setulang. Tak ada riam, tak ada riak. Batang air ini cukup dangkal, berair jernih dengan bebatuan pipih lonjong yang bertebaran di dasar sungai.

Kala perahu kandas, entah berapa kali Raimon meminta penumpang turun, masuk ke sungai. Perahu terpaksa didorong. Naik lagi, melaju kembali; lantas turun lagi. Hujan semalaman rupanya hanya mengguyur Desa Setulang, tak sampai di kawasan hulu, sehingga air sungai tak bertambah.

Saat masuk sungai, rasa sejuk merayap dari kaki ke sekujur badan. Berjalan di tengah sungai nan jernih, berpagar pepohonan, memberi kesempatan mereguk kesegaran belantara tropis Kalimantan.

Perjalanan yang selalu lembap dan basah itu hendak menuju tane’ olen Setulang, sebuah hutan desa yang masih perawan. Sejak 2003, masyarakat Kenyah Uma’lung desa itu telah berniat melestarikan sepenggal kawasan hutannya. Saat itu, masyarakat Setulang bimbang, melindungi tane olen atau menerima hak pengusahaan hutan masuk.

“Akhirnya, kita memutuskan untuk melindungi tane olen,” terang Rining, sekretaris Badan Pengelola Tane’ Olen Setulang. Di kawasan itulah kini para pelancong masih bisa melihat dan menyentuh pohon raksasa. “Pohon Cifor,” jelas Rining tentang sebutan pohon meranti besar itu.

Diberi nama itu lantaran Center for International Forestry Research pernah melakukan penelitian di tane’ olen Setulang.  Tane’ olen Setulang punya dua pohon besar. Yang pertama dekat dengan stasiun riset, dan yang kedua, jauh lebih besar, masih berjarak tiga jam jalan kaki dari pohon pertama. Menurut Rining, enam orang bergandengan tangan belum cukup untuk temu gelang mengelilingi pohon cifor.

Para pengunjung umumnya berasal dari negeri seberang: Jerman, Prancis, atau Australia. Mereka biasa bermalam di stasiun riset, papar Raimon, “Dua atau tiga malam.” Menurut koordinator kawasan Tane’ Olen itu, para turis menumpahkan hasratnya menikmati hutan tropis. “Memanjat pohon, menikmati suasana hutan atau melihat warga mencari ikan,” lanjut Raimon.

Tane’ olen menjaga wilayah hulu Sungai Setulang, yang memasok sumber air bersih bagi warga desa. Kawasan hulu menyimpan beragam ikan air tawar yang menjadi sumber protein. Tane’ olen juga bersimbah beraneka ragam buah-buahan. Buah terfavorit warga Setulang tak lain adalah durian.

“Ada durian merah, durian daun dan lai,” jelas Saleh Wang, Kepala Desa Setulang, sekadar menyebut tiga jenis buah legit itu. Lai, misalnya. Durian ini berwarna kuning oranye, baunya tak menyengat. Tak mengherankan, ada yang berkelakar, buah yang bisa diperam itu bukan durian, tapi lai.

Masyarakat Setulang telah menata tata ruang: pemukiman, ladang dan kawasan hutan. “Tane Olen berada di sisi barat, sementara pemukiman dan ladang di sisi timur,” ujar Rining.

Masyarakat Setulang di Malinau, Kalimantan Timur memanen hasil ladang mereka. Dengan pemetaan partisipatif, mereka berhasil melestarikan hutan yang menyokong peradaban (Dwi Oblo/NGI).

Andreas Mench, development advisor GIZ FORCLIME, bersama warga Setulang telah melakukan pemetaan partisipatif wilayah desa. Aktivitas itu mengajak masyarakat untuk menentukan pemanfaatan tane’ olen serta kawasan sekitarnya. “Di mana bisa mengambil durian, berburu babi ataupun mencari rotan,” jelas Andreas.

Semenjak empat tahun lalu, warga Setulang bareng CIFOR telah memiliki peta tata guna lahan desa dengan berbagai fungsi. “Kita akan lihat kembali peta itu. Apa dan mengapa yang terjadi sampai sekarang. Jika tidak sesuai, apa yang harus warga Setulang lakukan,” kata Andreas.

Dengan demikian, pemetaan partisipatif belumlah cukup. “Masih diperlukan penentuan zonasi secara partisipatif.” Dari penentuan zonasi, dipadukan dengan inventarisasi tane’ olen, kajian sosial ekonomi dan pemetaan partisipatif akan ada rencana pengelolaan tane’ olen.

Bagi Andreas, hubungan hutan dengan masyarakat di pedalaman Malinau saling terikat erat. Hutan dan isinya menyediakan berbagai kebutuhan manusia: sandang, pangan, papan dan obat-obatan.

Kini, banyak komunitas Dayak berada di simpang jalan. Para orang tua yang masih banyak bergantung pada alam, menghadapi makin berkurangnya sumberdaya hutan. “Sementara kaum mudanya telah bergantung pada kemajuan zaman. Obat-obatan misalnya, lebih baik mencari obat di puskesmas,” terangnya.

Setiap komunitas Dayak memiliki tane’ olen untuk cadangan kehidupan. Pada tane’ olen yang tersebar di kawasan hulu Malinau itulah, dipraktikkan pula demonstration activity untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan.
(Rian Jagat : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/01/hidup-mandiri-bersama-hutan-lestari)

Satu pemikiran pada “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s