Jurnalisme Mengabarkan, Iwan Fals Memberi Makna

Iwan Fals Jurnalis jwalita News 300x187 Jurnalisme Mengabarkan, Iwan Fals Memberi Makna

 Iwan Fals Usianya menapak di garis 51 tahun pada 3 September kemarin. Virgiawan Listanto, nama asli dia, telah membuat banyak orang percaya: perlawanan dan perjuangan bisa berasal dari apa saja, bahkan dari beberapa bait lagu.

Saya mengenal Iwan sejak sekolah dasar. Mengenal bukan dalam arti bertemu muka, namun mendengarkan lagu-lagunya. Paman saya yang gondrong seperti Iwan, dia pernah kuliah di Jogjakarta, yang memperkenalkan saya dengan Iwan. Sejak itu saya jatuh cinta kepada Iwan.

Iwan hadir sebagai sesuatu yang tak lazim dalam jagat musik pop Indonesia. Orang menyamakan dia dengan Bob Dylan, penyanyi balada Amerika Serikat itu. Saat penyanyi lain memilih tema percintaan, dia menyanyikan lagu protes: tentang sarjana yang cari kerja, tentang perjuangan seorang ibu, tentang anak berjualan koran, tentang hutan yang gundul, tentang kapal terbakar, tentang apa saja. Jika jurnalisme memberitakan, maka Iwan memberikan makna.

Saat sekolah menengah pertama, seorang kawan pernah berkata kepada saya: ‘lagu-lagu Iwan bisa memicu pemberontakan.’ Dia anak pejabat pemerintah. Kaya raya tentu saja. Saya menangkap ada nada ketidaksukaan pada apa yang dia bayangkan sendiri sebagai implikasi lagu-lagu Iwan Fals. Pemberontakan.

Kawan saya tak sendiri mencurigai karya-karya Iwan. Selama Rezim Orde Baru berkuasa, konser Iwan beberapa kali digagalkan. Saat Iwan hendak mempromosikan album Mata Dewan tahun 1989, keluarlah radiogram polisi yang melarangnya mengadakan konser di Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh. Andreas Harsono menulis dalam salah satu reportasenya: Iwan menangis saat itu.

Iwan tentu saja tak pernah memimpin pemberontakan mana pun. Namun, ia mempengaruhi hidup banyak orang. Majalah Time Edisi Asia sempat menobatkan dia sebagai ‘Asian Hero’, pahlawan Asia.

Tahun 1998, Iwan tidak berada di barisan terdepan pemimpin aksi massa. Namun, lagu-lagunya akhirnya menjadi tema bagi gerakan mahasiswa turun ke jalan. Saat itu, saya masih sekolah, dan masih ingat betul ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ dinyanyikan bersama.

Lagu ‘Serdadu’ dinyanyikan para demonstran untuk mengecam militerisme Orde Baru. Sementara lagu jenaka ‘Pesawat Tempur’ diambil refrain: ‘penguasa, penguasa, berilah hambamu uang.’

Bersama Kantata Takwa, Iwan memusikalisasi puisi WS Rendra. Saya ingat, bagian akhir puisi/lagu ‘Paman Doblang’ dibacakan dengan keras oleh seorang demonstran di hadapan polisi di tengah Jalan Jawa di tahun 1998: ‘Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata’. Sampai saat ini, saya selalu tergetar mendengarnya.

Tahun 2003, Iwan mengatakan, bercita-cita menjadikan Orang Indonesia (organisasi nirlaba yang dibentuknya) besar dan bergerak seperti Nahdlatul Ulama. Ia ingin OI tetaplah apolitis walau tak antipolitik.

Setelah masa reformasi, Iwan memang menjadi lebih tidak politis. Ia menyanyikan lagu cinta, lirik-lirik lagunya tak lagi berteriak dan menghentak. Ia menjadi lebih sederhana. Ia mengaku lebih mudah tergerak dengan ibu yang menyusui anaknya, atau hal-hal yang dianggap kecil di dunia, yang sesungguhnya memberi makna: cinta.

Tahun 2010, Iwan kembali ke Jember, mampir ke Pondok Pesantren Al Qodiri. Ia sejak lama mengagumi Gus Dur, dan banyak mendekat ke pesantren. “Saya diterima baik teman-teman pesantren, saya semakin yakin Gusti Allah membuka jalan ini. Saya jadi baru ngeh: oh rupanya inilah perjalanan Gus Dur, perjalanan banyak orang. Ini ril hidup,” katanya kepada saya.

Kita masih belum tahu, sampai pada titik mana Iwan akan berhenti. Namun, saya kira, ia tak akan berhenti, selama kata masih bermakna. Karena ia tak akan mau, ‘jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s